Indramayu | dinamikapendidikan.com – Mapag Sri adalah salah satu adat/budaya masyarakat Indonesia khususnya Jawa dan Sunda yang dilaksanakan untuk menyambut datangnya panen raya sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.
Sebelum melaksanakan upacara, kepala desa mengadakan musyawarah/rempugan dengan sesepuh desa atau pemuka masyarakat. Maksud rempugan tersebut untuk menentukan hari dan dana yang diperlukan untuk upacara. Usai musyawarah, para pamong desa melakukan pengecekan ke sawah-sawah. Bila benar padi telah menguning, segera mengadakan pungutan dana secara gotong-royong. Besarnya pungutan bergantung kemampuan masyarakat.
Sebagai bentuk rasa syukur Pemerintah Desa Panyindangan Wetan Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, bersama petani dan masyarakat setempat, menggelar acara adat istiadat Mapag Sri untuk menyambut panen raya yang akan segera dimulai beberapa hari lagi.
Kepala desa/Kuwu Desa Panyindangan Wetan Nursidin didampingi Kasi kesejahteraan Wartokim saat berada dilokasi acara mengatakan, Mapag Sri merupakan tradisi turun-temurun yang dilaksanakan setiap tahun saat menjelang musim panen raya akan dimulai, khususnya para petani penggarap sawah.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang digelar dihalaman balai desa, dan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa”, ucap Nursidin

Acara ini diadakan pada Rabu, 9 April 2025, dan dihadiri oleh pemerintah desa serta lapisan masyaraat khususnya para petani penggarap sawah juga dari forkopimcam. Acara Mapag Sri dimulai dengan ritual membawa Tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Kemudian dilanjutkan dengan acara tahlil (doa bersama) bersama para petani yang dipimpin oleh kaur kesra.
” Kami atas nama pemerintah desa berharap, hasil panen raya mendapatkan hasil yang berlimpah dan berkah diberikan oleh Tuhan yang maha esa. Mudah – mudahan masyarakat Indramayu khususnya warga desa Kami menjadi makmur, seperti program asta cita/Ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto”, tutur kepala desa Nursidin
Masyarakat Panyindangan Wetan menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Dengan semangat tinggi, mereka tidak hanya hadir, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam setiap rangkaian acara, seolah ingin menegaskan bahwa budaya adalah denyut nadi kehidupan mereka.
Kegiatan seperti Mapag Sri menjadi bukti nyata bahwa di tengah modernisasi, warga desa tetap setia menjaga warisan budaya, menghormati hasil kerja keras para petani, dan mempererat rasa persatuan. Ini adalah teladan bahwa adat dan tradisi, jika dirawat dengan sepenuh hati, akan terus hidup dan memberi inspirasi bagi generasi masa depan.
Sebagai penutup, acara diwarnai dengan hiburan berupa sandiwara (Wayang orang) sampai malam hari, pertunjukan seni dan budaya yang merupakan kearifan lokal khususnya di Kabupaten Indramayu.(Tosim)











