Bekasi | dinamikapendidikan.com – Orangtua dari peserta didik baru, penting untuk mengenali Kurikulum Merdeka atau Merdeka Belajar tahun ajaran baru 2023/ 2024.
Kurikulum Merdeka di luncurkan oleh Menteri Pendidik, Kebudayaan, Riset dan teknologi atau Kemendikbud, Ristek Nadiem Makarim pada 2022.
Di tengah- tengah kesibukan Hj. Fatimah Hanum sebagai Komisi lV di DPRD ( Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ) Bekasi Kabupaten. Wartawan meminta untuk meluangkan waktunya untuk kita wawancara mengenai pendidikan di Kabupaten Bekasi. Mengenai kurikulum Merdeka yang dari tahun 2022 di luncurkan sebagai pembelajaran anak- anak Bangsa.
Wartawan bertanya kepada beliau ( Hj. Fatmah Hanum ) mengenai kurikulum Merdeka yang sudah meluncur di semua sekolah dari mulai SD, SMP, SMA dan sederajatnya.
Bagaimana tanggapan ibu Hj. Fatimah untuk mendongkrak kurikulum Merdeka yang sedang di ajarkan para guru- guru untuk mengajar anak bangsa, apakah lebih cepat tanggap atau semakin susah manakala kurikulum tersebut lebih banyak menghapal dari penerangan guru.
Beliau ( Hj. Fatmah Hanum ) menjawab ” Setiap kurikulum di buat pasti ada tujuan baik kalau terjadi sebaliknya sekolah, guru dan semua Stake Holder pendidikan mesti mengevaluasi penyebabnya untuk kemudian di lakukan assessment .
Wartawan juga menjelaskan tentang kunjungan Wartawan ke sekolah- sekolah SD, SMP, SMA dan sederajatnya dan Wartawan bertanya kepada siswa mengenai kurikulum Merdeka dan Wartawan mendapat berbagai jawaban dari peserta anak didik ada yang lebih suka dengan kurikulum sebelumnya dan ada juga yang lebih suka dengan kurikulum Merdeka. Dan untuk itu bagaimana tanggapan ibu Hj. Fatmah mengenai perbedaan tersebut. Dan ibu Hj. Fatmah menjawab., “. Ukuranya tidak sesederhana itu. Suka atau tidak suka kurikulum mengarahkan peserta didik untuk dapat sesuai dengan capaian pembelajaran disetiap tingkatan ini di assessment dulu hasilnya apa, baru kita bisa menilai”. jawabnya.
Mengenai kurangnya tenaga pendidik di Kabupaten Bekasi Wartawan tanyakan juga sama beliau ( Fatmah) bagaimana solusinya untuk tenaga pendidik ( guru ) yang kurang memadai jumlahnya sedangkan honorer dibatasi. Seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua juga anak didik mengeluhkan mengenai guru yang sering kosong dan tidak adanya guru mengajar mereka terutama di waktu masuk siang. Mengingat guru yang seharusnya mengajar pada waktu pelajaran tertentu mungkin sudah kelelahan mengajar anak didik dari pagi sampai siang. Sehingga harusnya pada pelajaran tertentu sering kosong gurunya. Ibu Hj. Fatmah menjawab. ” Saya sambungkang ke Disdik biar dilakukan perbaikan”. Jawaban yang singkat dan padat, dikatakan Hj. Fatmah.(Riama).











